tentang Sang Blogger

My photo


Its a trilogy, the journey of my final year project, photography and me, also my passion on reading.. ngeee~~~ enjoy..!!!

StuFFz

go to d gym every weekend,
Go to d Library for leisure,
internet surfing everyday except sunday,
reading almost everytime (bookworming process),
get together with friends in hs cafe every weekend,
play squasy in drimzz,
travel with friends once in a year,
go back to hometown twice a year
Watching movie with roommates everytime after finish the exams,
Talking with mumz in phone almost everyday,
Sms'ing Nysa at least once in a week,
huhhh!!! there's a lot more but it's really tiring to write out all of my stuffz... ^_^

My Favourite kitaB (al-Qur'an)

Siapa yang tak mengikutinya kerana kesombongan, dia pasti akan dibinasakan ALLAH.. Siapa mencari petunjuk diluarnya, maka dia pasti akan di sesatkan ALLAH.. Dengan berpegang kepadanya, hawa nafsu tak akan menyimpang, lidah pun akan tegak dalam kebenaran.. Pendapat ahli ilmu tak akan bercabang bersamanya, para ulama' tak akan merasa kaya dengan ilmunya.. Orang2 bertaqwa tak akan bosan membaca dan merenunginya.. Barangsiapa mendapat ilmu darinya, pasti dia unggul.. siapa menggunakan konsepnya, dia pasti berada dalam kebenaran.. siapa yang menetapkan hukum dengannya, pasti berlaku adil.. Siapa mengamalkan kandungannya, dia pasti diberi pahala.. dan siapa yang mengajak orang lain kepadanya, dia pasti ditunjuk ke jalan lurus..

20100221

IPTA 2009..last for the yerAr

Perjalanan hari pertama yang amat mengesankan.Usai subuh, aku sempat tiduur, menyempatkan diri untuk tidur lebih tepatnya sampai kurang lebih jam 8 pagi. Terjaga, aku buru-buru bangun mengemaskan barang-barang yang belum sempat aku kemaskan. Janji dengan Azwa, pelajar di Fakulti Sains kemanusiaan atau lebih tepatnya major dalam bidang sejarah terpaksa aku batalkan. Aku bergegas ke pejabat Mahallah untuk 'check in', dan berangkat ke tangga besar dengan Nana. Sesampainya disana, baru aku sedar yang aku tidak membawa lampu suluh, kerana itu tidak keberatan dengan ajakan beberapa teman-teman Comradean yang lain ke 'Kiosk'. Di Kiosk,aku membeli beberapa lagi barangan keperluan berkhemah yang aku tidak bawa dari bilik. Aku tidak pasti sebenarnya jam berapa bas akan meninggalkan UIA, tapi yang pasti jam 11.30 am, aku diberitahu 74 orang peserta sedang dalam bas, perjalanan menuju Kg.Susu, Cameron Highland. Simpang ke Gua Musang kami lewati, jauh sekali untuk melaluinya sejak program ke Kelantan dibatalkan malam sebelumnya. Kami singgah untuk makan dan solat, jama' taqdim zuhur dan asar. Seperti biasa, mual, pening, muntah, selalu menjadi perkara harus dalam perjalanan jauhku. Alah bisa tegal biasa, itu kata2 yang akan selalu aku ingat bila berdepan dengan semua ini.InsyaAllah, berkat do'a orang tuaku, adik-adikku, Khairunnisa', juga dia, segalanya akan berjalan lancar.

Walau sesukar bagaimanapun keadaan yang akan kutempuhi, kedatangan kami disambut hujan renyai-renyai yang akhirnya berganti lebat. Pengalaman mandi hujan yang amat kurindui, lantaran barang yang masih banyak ditinggalkan dipinggir jalan, kurang sejam berjalan kaki ke kampung itu. Matahari sudah mulai malu-malu, perlahan meninggalkan tempat aku berdiri. Tempat penginapan masih basah, atap bocor, air hujan tidak berhenti-henti membasahi tapak itu dan mengeluarkan petanda bahwa kami tidak dapat melepaskan kelelahan disitu. Kedinginan mula menusuk ke tulang putih, lantaran baju yang masih basah. Abe Norhan, seakan mengerti penderitaan orang bandar yang kami alami dengan hati yang tulus ikhlas memberikan terataknya sebagai peneduh kami malam itu. Kedinginan yang benar-benar luar biasa sehinggakan otakku tiba-tiba cuba menafsir bagaimana agaknya kedinginan tidur dimusim salju. Aku sendiri, dengan dua lapis jaket, kain sarung dan menumpang selimut Azwa,tetap dirasuk kedinginan yang menggetarkan setiap urat dan nadi.

Hari kedua adalah hari permulaan proses adaptasi, memandangkan sudah hampir setahun lalu sejak aku terakhir masuk ke kampung orang asli atau lebih umumnya masuk hutan. Hari ini agak sibuk, almaklum lah acara yang semalam tergendala lantaran hujan harus dilunaskan hari ini. Dalam kesibukan, aku menyempatkan diri untuk mandi. Pengambilan makanan cuba aku batasi jumlahnya, kerana perut sudah mula mengatakan tidak mampu menampung lagi makanan baru.

Petang itu ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, menyiapkan sapu lidi. Malam itu aku tidur awal, mungkin atas sebab masih belum bisa mengadaptasi diri dengan keadaan sekeliling. Mengikut tentatif, besok ada qiamullail. Alhamdulillah setakat ini semuanya bisa saja, cuma ada peristiwa budak kecil tarik aku dari belakang ketika aku pulang dari bilik air.

Ini malam yang pertama kami menginap di dewan kecil tempat menyimpan mayat kalau ada kematian di kampung itu. Aku sempat tertanya, muatkah ruang dewan kecil ini (ukuran kelas biasa saja sebenarnya) untuk kami semua, sebab peserta perempuan lebih dari 30 orang. Alhamdulillah, walaupun cukup-cukup, tapi kami semua mendapat ruang untuk menghambat lelah keluar dari tubuh malam itu. Semua hanya kerana Allah.

Slot Qiamullail dengan teman-teman Comrade yang lain memulakan agenda pagi hari ini. Hari yang berbahagia ini, kami mengadakan bengkel fardhu ain untuk amek-amek yang ada dalam kampung itu. Hati tersentap sejenak saat mengeksplorasi apa yang tersembunyi dibalik hati mereka.Yang sudah hidup berpasangan, beranak pinak, bercucu,bacaan alfatihah pun belum lulus. Tapi semangat mereka untuk belajar, turun untuk mempelajari sesuatu tentang jalan hidup yang telah dipilih itu yang paling bernilai dimataku, apatah lagi dimata Allah,insyaAllah.

Siang ini agak menarik kerana aku berkesempatan solat zuhur berjamaah dan tidur siang dirumah ibu angkatku, amek Minah. Aku ditemani adik-adik angkatku, Ruksanah dan Firdaus.

Petang, kami semua berkesempatan mempelajari anyaman kalung dan ikat kepala yang biasa digunakan dalam upacara sewang. Agak santai tapi boleh tahan memenatkan juga sebenarnya. Malam itu, kami menonton laskar pelangi dengan orang-orang kampung. Alhamdulillah sekurang-kurangnya ada yang bermanfaat boleh dilihat daripada malam sebelumnya. Malam itu kami ingatkan ada postmortem tapi ternyata tidak ada dan akhirnya kami pulang ke dewan untuk tidur. Hari besok menanti penuh setia untuk perjalanan seterusnya dikampung ini.

Hari keempat yang penuh liku, memulai hari dengan persiapan sukan. Acara dimulai pada jam 8.30 pagi sampai lah tengahari, bermula untuk anak kecil, amek dan akhirnya abeh. Macam-macam ragam yang dapat kusaksikan sepanjang sukan itu, cukup untuk menyaksikan sahaja sudah melelahkan dan akhirnya aku membuat keptutusan untuk duduk di hadapan rumah abeh Norhan. Hampir tengahari, ada anak kecil yang datang ke rumah abeh Norhan meminta daun hmmm aku lupa apa namanya untuk adik Sam Kamaliah, malangnya daun itu tidak ada.

Petang aku ke rumah amek Minah, agak bosan sebab Ruksanah dan Adawiyah dilambung kesibukan dengan biro masing-masing. Yang ada cuma Mahmud, pelajar baru jurusan Ilmu wahyu dan pengajian Islam yang berasal dari Somalia itu. Dia juga antara adik beradik angkatku di kampung ini. Tidak ada poin penyambung asalnya, tapi masalah berkomunikasi dalam bahasa Inggeris untuk anak baru bisa aku mengerti dan aku cuba menyampaikan apa yang tidak dia faham dalam bahasa Arab yang sebenarnya aku juga sudah lama tinggalkan. Cerita punya cerita, ternyata kami memiliki minat yang sama pada syi'ir-syi'ir arab. Teringat subjek Nusus dan Mutola'ah di Madrasah Islamiyyah Ath-thanawiyyah dulu. Tercanang nama Ahmed Syauqi, ibni syaddad, dan beberapa nama lainnya. Perbualan terputus saat azan asar menggema alam.

Takbir hari raya malam ini sungguh mendalam ertinya untuk diriku. Kesannya benar-benar menembusi jantung terus ke kawasan hati yang paling dalam dan tidak mungkin boleh terbebas lagi. Keselamatan teman Comrade yang sedang dirawat di hospital akibat pendarahan diotak setelah terlibat dengan kemalangan jalan raya, Kesembuhan adik Sam Kamaliah, dan Kesuksesan program IPTA Comrade ini adalah item yang kami pohonkan dalam doa kami malam Aidil Adha ini. Benar, ada sudut baru yang dapat aku pelajari dari perjalanan kali ini. Sungguh aku bersyukur padaMu ya Allah, kerana pengajaran tentang pengorbanan yang amat berharga ini.

Malam itu kami bersiap dengan persiapan-persiapan hari raya. Lemang, kali pertama aku lihat proses pembuatannya dengan sepasang mataku sendiri, 'live'. Walaubagaimanapun, ada kejadian yang agak mengusik persiapan hari raya penduduk kampung. Biasalah, hutan, manusia, kejadian mistik, adalah sesuatu yang sinonim. Bukan luar biasa, cuma agak mengejutkan.

Takbir raya menggegarkan alam fana pagi ini. Ada titisan mutiara terbias lantaran perasaan haru yang tidak tertahankan. Kesamaran subuh menyembunyikan semuanya, biar tidak tertangkap oleh mata teman-teman. Takut juga akan mengusik emosi teman lain, yang kebanyakannya kali pertama meraikan hari bahagia ini tanpa keluarga di sisi. Ada doa yang aku titipkan pada Allah untuk orang tua dan adik-adikku, semoga dengan pengorbanan kecil ini, mereka bisa menikmati sesuatu yang mungkin tidak dapat dijamah saat itu, tapi di mahsyar nanti insyaAllah.

Saat aku mencoret di lembaran diariku, aku sudah siap mandi sunnah Aidiladha, rapi dengan pakaian sederhana yang aku bawa dari kampus, sambil menunggu teman-teman yang lain bersiap. Masing-masing dengan pakaian lebaran yang sederhana, patuh dengan arahan Mister Presiden mungkin, “pakai baju yang biasa-biasa saja, jangan sampai nampak macam bidadari pula dan orang kampung kelihatan macam dayang-dayang..”

Jam menunjukkan hampir jam 7.30 pagi, perutku sudah mulai membunyikan genderang kesakitan, kebas,tapi aku masih bisa bertahan. Ya Allah, terima kasih untuk semua nikmatMu yang tak terhingga. Tidak pernah ku duga, hari raya ditengah hutan di satu daerah yang tidak pernah terduga ada kehidupan saat melewati lebuhraya ini menyajikan aku satu suasana hari raya yang baru, yang tak ku pernah terlintas di fikiranku untuk menikmatinya.

Bersama teman-teman yang kurang lebih 70 orang ini, dengan orang-orang kampung yang ramah menerima kedatangan kami, satu memori terindah dilakar. Sebentar lagi aku akan pulang untuk membawakan cerita-cerita indah nukilan alam, di sini, di kampung ini.

Dan kenduri bersam orang-orang kampung senja ini, sungguh bermakna. Kebersamaan dapat aku rasakan, kuih- muih yang sederhana, dan makanan-makanan lainnya, hhhhahhhh...sesuatu saat yang baru buat aku dan ingin aku rakamkan tiap detik yang berlalu saat itu sesempurna mungkin biar menjadi kenangan yang takkan terlupakan sampai meninggalkan dunia ini.

Hari keenam yang ada kelainannya lagi. Pagi ini kami tidak berkesempatan tidur-tiduran sebab usai solat subuh ada postm sampai jam8 lah lebih kurang. Setelah mandi, aku berangkat ke rumah amek amek dengan bekalan kuih. Kami disana sampai zohor, solat zohor terakhir bersama amek Minah bersama Adawiyah dan Firdaus..Oh ya, sebelum mandi pagi tu ada games. Aku, mashita, Dalilah, Zahidah, Yusri, Rauf, Ashraf, Akram, dan Ridho menang..peazee..


Malam ada tayangan video upin dan ipin, Alhamdulillah orang-orang kampung agak terhibur. Malam ini kantuk menyerangku awal, mungkin sebab hari yang agak aktif, jadi aku memutuskan untuk berangkat tidur..hehe. Perjalanan ke rumah Abe Norhan, ternampak kelibat seorang teman UIA yang awalnya tidak seperjalanan dengan kami dari hari pertama dalam kesamaran lampu neon menerangi tiap wajah yang ada disitu. Walau samar, aku yakin orang yang berdiri di pinggir kiri gelanggang dan tengah asyik menonton upin ipin itu adalah temanku. Desas desus bertebar di dewan penginapan dan informasi mengenai dia kuperoleh. Kini jelas lagi bersuluh, temanku dalam perjalanan pulang setelah selesai dengan program ABIM nya.

Malam terakhir ini aku memutuskan untuk tidur di rumah amek minah, ditemani Afifah, Ruksana dan Adawiyah. Malam terakhir selalunya malam paling bez bila masuk kampung, contohnya malam ini lah, makan malam di rumah amek Milah dengan Zul, Ira, Ruk, dan Mahmud. Sajian ayam kampung masak kari memang sangat-sangat membuka selera. Dari 3 mangkuk yang disaji, 2 mangkuk habis licin dan yang terakhir terusik sedikit.

Hari terakhir yang menyentuh hati. Bangun pagi jam sudah menunjukkan hampir jam 6 pagi. Aku bingkas bangun bersama teman-teman lain. Tidak tega membangunkan amek minah, kami tidak berpamitanbergerak ke dewan penginapan untuk solat subuh. Usai subuh, ada postmortem terakhir sambil membersihkan bilik penginapan kami.

Setelah selesai semuanya, kami ke rumah amek Minah dan Milah untuk berpamitan dari mereka. Amek minah dan Abeh Aziz membekalkan aku dengan durian, yang awalnya aku berat hati untuk membawanya lantaran bau yang boleh memualkan aku. Tapi, melihat wajah mereka, tidak ku sanggup menolak, dan ada orang yang pas untuk menerima oleh-oleh dari kampung itu di UIA.

Alhamdulillah, semuanya dipermudahkan Allah hari ni. Doa rabitah mengakhiri pertemuan kami dengan orang-orang kampung. Dengan berkat bantuan orang-orang ABIM, perjalanan keluar ke lebuhraya menjadi mudah. Semoga bantuan mereka mendapat balasan dari Allah, memikirkan betapa sukarnya melewati jalan itu sendiri dengan barang-barang yang banyak. Panas matahari memanggang tiap inci kulit yang terdedah, tapi insyaAllah ada ganjaran untuk semua kesulitan itu. Alhamdulillah,jam menunjukkan tepat 12.30pm saat bas sampai ditempat yang dijanjikan. Dan sekali lagi perjalanan pulang ke UIA untuk langkah menuntut ilmu yang seterusnya. Terima kasihku ya Allah untuk hadiah yang tak ternilai ini.

Qomuus

tHaNks 4 ViewinG this bLog....luv,aNeeQ..